Embun malam membasahi gaun Lasmini. Awan bergelung-gelung mengitari sang rembulan yang bersinar indah. Lasmini termangu. Setia menunggu. Setiap mobil yang lewat dipandanginya dengan harap akan berhenti sejenak dan dirinya dibawa serta. Seratus ribu, cukup untuk menyambung hidupnya dan anaknya selama paling tidak dua hari.
Perlahan dia putarkan mata, menengok ke sekelilingnya. Dia tidak sendiri.
Laju mobil dan motor beradu kencang di perempatan jalan Sukarno Hatta tempat Lasmini mengadu rejeki. Tiada satupun yang mampir. Malam dingin, menggigit tulang. Angin sepoi-sepoi meniup membutakan kisah. Klakson berbunyi nyaring bersahut-sahutan, acuh saja dengan suasana sekitarnya. Kupu-kupu kelabu abu-abu itu mendesah. Nasib mempermainkan dirinya, nasib mengacaukan cita-cita yang dipupuknya. Sederhana saja, bahkan mungkin akan menjadi bahan ejekan wanita-wanita modern zaman sekarang. Terlebih wanita-wanita karir yang telah mengungguli para lelaki itu.
“Aku hanya ingin menjadi seorang wanita, menikah punya anak dan membantu suami di sawah”, katanya suatu ketika. Sederhana. Se-sederhana dirinya. Se-sederhana kalau tidak dikatakan kekurangan hidupnya. Hanya itu, tidak lebih, tidak kurang. Ambisi orang desa yang jauh dari pengharapan berlebih. Baginya, asal sudah bisa terpenuhi kebutuhan makan keluarga, itu sudah lebih dari cukup. Cita-cita yang lebih dari itu dianggapnya impian orang
Lasmini, seorang wanita yang cantik. Berkulit putih bersih, bercahaya bagaikan pualam disinari rembulan. Rambutnya panjang berombak. Tinggi semampai bak pragawati. Bau tubuhnya semerbak harum bagaikan bunga setaman. Bicaranya bagaikan gadis dusun pasundan dengan senyum malu-malu. Tiada lelaki yang tidak akan menoleh dan berlama-lama memandang bila melibat dirinya. Semuanya adalah karunia lahir yang diperolehnya. Karunia yang bahkan dia sendiri tidak mengharapkannya.
Orangtuanya hanyalah petani miskin. Hanya mampu menyekolahkan dirinya sampai kelas dua di SD negeri yang ada di dusunnya. Dua tahun masa keceriaan Lasmini. Belajar, bermain dan bergaul dan berceloteh riang dengan anak-anak sebayanya. Melepaskan penat rumah, meregangkan syaraf susah turun temurun. Membilas luka.
Duapuluh empat bulan itu, Lasmini merasakan betapa indahnya dunia. Laksana surga. Guru kelasnya, Ibu Aisyah mengajarkan kepadanya indahnya alphabet. Berwarnanya angka-angka. Lasmini belajar dalam harap. Harapan untuk tetap dapat belajar dengan baik. Hidup adalah tanah lapang, harapan terbuka luas bagi siapapun. Tak terkecuali bagi Lasmini. Bermain karet, petak umpet dan sesekali menggondol jambu air yang ditanam oleh penjaga sekolah. Berjalan beriringan menuju dan sepulang sekolah merupakan memori terindah tak terlupakan oleh Lasmini. Begitu indah, begitu tersimpan dalam kalbu. Begitu lekat dalam khayal masa kecil Lasmini.
Lasmini mereguk awan
Indah berseri, berwarna bunga
Dalam kumpulan
Berbagi suka, membagi tawa
Wahai masa …
Janganlah lewat siang
Matahari bersinar cerah mewarnai asa
Asa di mula tanpa petang
Lasmini bersuara tanpa kata-kata
Raut muka berseri sang biduk tertawa ….
Tiada rupa tiada cerita …
Lasmini adalah sang pewarta …
Harapan itu sirna ketika suatu sore Ayahnya berkata, “ Nak, ayah sudah tidak kuat membayar uang sekolahmu”. Lasmini menurut. Dia paham kesusahan orang tuanya. Sudah tiga bulan ini bayaran itu belum dilakukan. Lasmini tidak bisa menuntut. Sudah cukup baginya bisa berhitung dan baca tulis. Hidup harus tetap berjalan.
Sejak itu Lasmini berganti keceriaan membantu Ayahnya di Sawah. Sawah milik orang
Lasmini juga membantu mengarit rumput untuk kambing piaraan yang juga di paro dengan pemiliknya. Disela-sela waktu itu ia juga memunguti keong sawah untuk makanan bebek. Pekerjaan yang berat untuk anak sekecil Lasmini. Tapi dia melaluinya dengan suka. Sesuka hatinya kala memberi makan kambing-kambing itu, yang menjulur-julurkan kepalanya kala di sodorkan daun nangka kesukaan mereka. Sesuka juga dia memberi makan bebek yang menguik-nguik memperebutkan makanan dengan pejantannya yang berputar-putar mengawasi dan memakan sisanya. Senyum Lasmini senantiasa mengembang, meruntuhkan tembok. Tawanya lepas, tanpa beban. Hidup adalah pengharapan. Terang dan gelapnya kehidupan adalah bagaimana cara kita memandangnya. Lasmini kecil, Lasmini yang bercahaya bagi semua orang.
Usianya
Namun Saleh tidak sendiri. Lasmini yang cantik, menarik minat banyak orang-orang di sekitarnya. Memikat kumbang-kumbang untuk datang. Panasnya sengatan matahari di sawah tidak menghitamkan kulitnya. Beceknya tanah sawah dan pekarangan rumahnya menambah harum bau tubuhnya. Saleh yang kecil merasa rendah diri. Tidak mampu menyampaikan harap, apalagi bertemu muka dengan kedua orang tua Lasmini. Saleh merasa tidak berpunya apa, apalagi untuk bersaing dengan pemuda-pemuda yang memperebutkan Lasmini. Perasaan dia simpan dalam harap. Lasmini bersabar, setia menunggu Saleh datang kepada ayahnya untuk meminta restu.
Bagi Lasmini dan gadis-gadis di kampungnya yang bernasib seperti dia, usia
Ketidakberdayaan Saleh, duka buat Lasmini. Hilang sudah harapannya untuk membentuk keluarga sederhana pada suatu sore. Sirna impiannya dalam keremangan senja temaram. Alampun bergemuruh seolah tiada suka ketika datang seorang lelaki
“Lasmini akan saya biayai untuk menjadi TKW”, kata sang tamu kepada Ayah Lasmini.
Ayah Lasmini manggut-manggut seolah mengerti dengan penjelasan tamunya. Semua biaya pelatihan Lasmini sebelum keberangkatan akan ditanggung oleh sang tamu. Segepok rupiah rupanya memberikan penjelasan lebih penting bagi ayah Lasmini. Tidak ada tanya terucap, tiada bantah terkata. Usia limabelas tahun Lasmini harus pergi meninggalkan keluarganya demi segenggam ambisi ayah bundanya.
Sore itu juga Lasmini meninggalkan rumah dengan tatapan harap dari kedua orangtuanya. Pergi dengan lelaki yang bahkan dia tidak pernah tahu namanya. Hanya kepolosan, keluguan dan kepercayaanlah yang menyertai. Lasmini mengubur mimpinya, menguburkan harapannya untuk hidup bersama Saleh. Lelaki yang telah menawan hatinya, lelaki dengan suara mendayu-dayu itu.
Sore itu mengawali kelam hidup Lasmini. Lelaki itu menyimpan maksud tertentu. Kejahatan ada dalam darahnya. Dia tergiur kemolekan tubuh Lasmini. Sore itu awal kesengsaraan Lasmini. Lasmini disekap, ditindas, diperkosa, dipermainkan. Keluguan Lasmini dimanfaatkan untuk mengumbar nafsu. Lasmini, terburai. Mahkotanya tersia-sia. Direnggut percuma, dihempas dalam kenistaan. Lasmini meronta, merasa tiada arti. Hidup harus diakhiri, Lasmini merasa hampa. Seratus delapanpuluh minggu hidupnya telah berakhir.
Dan kini, disinilah Lasmini berdiri. Diperempatan jalan Sukarno Hatta. Memandangi mobil-mobil yang lewat, mungkin ada yang melirik dirinya. Anaknya, anak yang tiada pernah dia tahu siapa ayahnya tempat dia menumpahkan segenap keluh kesahnya menjadi kekuatan menjalani hidup. Menjalani hari demi hari dengan keniscayaan. Rapuh, kelam, setia akan takdir.
Senyum Lasmini sudah tidak lagi mengembang. Lasmini sudah tidak lagi bercahaya. Hilang bersama keniscayaan. Lasmini cantik telah berubah menjadi wanita seratus ribu. Menjadi celengan gajah. Mengumpulkan sen demi sen untuk menyambung hidup. Lasmini telah hilang, Lasmini telah tiada berharap. Hidup adalah tapak kuda, berjalan dengan ritme yang tetap.
Lasmini melangkah dalam diam
Siang telah menjelang petang
Kelana-kelana itu datang dalam pelukan
Gelap ….
Sekeliling lampu temaram
Lasmini berpacu napas
Bau-bau menyengat dalam kerongkongan
Lasmini meluncur dalam pasrah
Raganya telah turun ke titik nadir
Setia, menunggu akhir
Kapankah seribu nafas akan tiba ?
Luwuk, 14 Mei 2009
Note : Hidup adalah pengharapan. Terang dan gelapnya kehidupan adalah bagaimana cara kita memandangnya.
1 komentar:
Bagus bos...tinggal cari penerbitnya..tetap semangat...
Posting Komentar