Minggu, 10 Mei 2009

DIA

Dia telah melewati cerita itu. Dia telah melakoni cerita. Dan ketika lembayung surya di sore itu menampakkan sosok seorang bocah, dia tercenung teringat akan masa silamnya.

Bocah itu, hitam, legam, ceking, tidak berdaging. Tumbuh dalam luka. Tumbuh dalam ketiadaan. Bocah itu seperti juga dirinya, anak semenanjung yang tiada berharap akan menjadi seperti itu. Tapi semangat yang dipertontonkan kepadanya, menyihir waktu untuk kembali. Kembali kepada kehidupan masa kecilnya. Kembali kepada kepolosan, betapa dia cuma menganggap hidup adalah hitam dan putih. Hidup enak dan tidak enak hanya di batasi oleh sekeping tembok tebal bernama Uang.

Hidup adalah komersialisme. Hidup adalah Materialisme. Hidup adalah juga sebuah Romantisme. Dia bertanya kepada Yang Kuasa. “Kenapa saya tidak menjadi putra penguasa?” Hidup serba enak. Mau makan ayam goreng, tinggal minta. Mau minta sepeda baru, tinggal minta. Mau bayaran sekolah, tinggal minta. Betapa enaknya jadi anak Bupati. Tiap hari diantar jemput mobil sedan mewah. Tidak memikirkan membeli buku. Tidak memikirkan ayah sudah dua hari tidak melaut, gelombang pasang. Hanya cipratan sisa hujan yang berceceran kotoran pada bajunya di hantam roda mobil yang melaju kencang.

Dia, menjalani hari-hari dengan harapan semoga suatu saat nanti roda pedati akan berputar. Berharap suatu saat nasib baik akan datang padanya. Pernah suatu saat ia berpikir akan ada orang membuang sesuatu dalam satu tas kresek hitam. Isinya adalah uang. Ya, uang dan dengan uang itu dia akan merubah nasib dirinya, nasib keluarganya. Dia akan sekolah setinggi-tingginya untuk mengangkat harkat keluarga. Dia akan membeli sepeda baru – sepeda BMX – persis seperti yang di miliki oleh A Liang anak Taoke Toko Sederhana di depan pelabuhan. Hanya harapan kecil itulah yang dimiliki olehnya. Harapan yang membuatnya setengah gila. Setiap menemui kantong sampah yang tergeletak akan dikejar dan dibuka olehnya. Semoga uang yang diharapkan ada di dalamnya.

Dia melayangkan pandangan lagi kepada sosok lembayung itu. Sebuah termos berisi es lilin bersama satu kotak besar kue jajanan pasar, sanggup di pikul oleh bocah ceking, hitam dan luka itu.

“Dik, namamu siapa ?”

“Tatu, Om.

“Masih sekolah ?”

“Bapak bilang, sekolah nomor satu om.” “Tapi sepulang sekolah saya mengambil dagangan dari Bu Restu, tetangga saya.”

Dia, melihat jajanan yang di sodorkan oleh bocah itu. Tiada sedikitpun minat di hatinya untuk mencoba rasa jajanan yang dilihatnya. Jangankan membeli, tertarik minat pun dia tidak. Es lilin warna-warni yang dijajakan oleh bocah itu – dengan sikap hati curiga – telah di anggapnya memakai pewarna kimia yang akan merusak sel-sel tubuh. Kue jajanan pasar tentu banyak kuman yang menempel padanya, terlebih melihat ibu gemuk yang tadi membeli, mengkorek-korek kue itu, entah kenapa. Mungkin memilih ukuran yang besar sesuai dengan badannya. Entah telah berapa puluh orang yang telah melakukan hal yang sama dengan ibu gemuk kedodoran itu.

“Cuih …”, disemburkannya ludah. Membayangkan betapa jijik dan kotornya jajanan yang disodorkan bocah legam itu kepadanya.

Om, beli om. Es-nya masih keras om, baru dibikin. Ada rasa nangka, strawberry. Rasa pisang juga ada”. “Kue-nya juga enak om.”

Bocah itu masih mencoba dengan semangatnya menawarkan dagangan. Tiada terbersit di hatinya bahwa dia menghadapi seorang Bos Besar di sebuah Perusahaan Negara. Bos Besar yang entah kenapa pada penghujung sore itu tersasar di sebuah kedai kopi. Bocah kurus itu cuma berharap dari sepotong kue seharga lima ratus rupiah, seratus rupiah di antaranya akan menjadi bagiannya. Komisinya dari berjualan. Uang yang sangat berarti baginya dan mungkin nanti setelah dibagi jumlah disetorkan akan diminta oleh ibunya. “Buat tambahan beli beras sama ikan asin besok,” demikian ibu yang sangat disayanginya selalu mengulang.

Bocah malang itu tidak beranjak. Masih berharap ada pembeli lain di “Kedai Kopi Ksatria” akan membeli jajanannya. Dia, Bos Besar itu bergidik. Puluhan tahun yang lalu dialah bocah kecil, kurus kering itu. Tapi rasa gengsinya terlalu besar. Telah lama dia berkecimpung di politik. Telah lama rasa ibanya hilang. Telah lama pula rasa satu nasib dengan orang yang memilihnya hilang. Politik hanya sebatas transaksi sesaat. Setelah pesta usai, dialah sang penguasa.

Dia hanya mengingat, betapa dia dipandang sebelah mata oleh tetangga-tetangga yang ada di lingkungan masa kecilnya. “Kamu orang miskin, tidak pantas bergaul dengan kami.” Betapa materi telah memenjarakan dirinya. Bahkan hanya untuk sekedar berteman, sekedar memegang sebentar tali layang-layang tidak diperbolehkan.

Rasa dendam telah dipupuk olehnya sejak kecil. Sejak itu dia selalu mengumpulkan sen demi sen uang hasilnya berjualan dengan harapan bisa sekolah setinggi-tingginya. Dia pun menyelesaikan SLTA dikampung halamannya dengan nilai terbaik. Semangat dan dendam telah membuatnya mampu mengatasi segala krisis, menghalau segala halang rintang yang menghadang. Every crisis offers you extra desired power (William Moulton Marston).

Sore itu. Untuk pertama kalinya dalam limapuluh tahun, dia kembali. Kembali kepada kampung halaman yang telah membesarkan dirinya. Berpuluh tahun tiada kabar. Dia mengejar mimpi. Mimpi yang sekarang telah diperolehnya. Menjadi Direktur Utama di sebuah perusahaan negara adalah hal yang gampang baginya. Banyak koneksinya di pemerintahan maupun di dewan yang telah dipegang olehnya. Tidak akan menolak apapun kemauan dirinya. Bersama mereka dia telah mengeruk uang rakyat ber-trilyun-trilyun rupiah. Yang bahkan diapun sudah tidak tahu pasti jumlahnya berapa. Keterikatan mereka bagaikan Ksatria Templar yang bersedia mempertaruhkan nyawa. Pesta demokrasi telah dirubah olehnya dan konco-konconya menjadi pesta kembang api. Apapun jadi, uang berkuasa. Doktrin komersialisme, materialisme dan romantisme telah di tumbuh kembangkan olehnya menjadi paham koncoisme.

Dengan berbekal kartu nama barunya dia kembali. Jabatan Direktur Utama tentu akan membuat bangga kedua orang tua dan kerabatnya. Dia bermimpi akan membeli properti termahal yang ada di kampung halamannya. Membahagiakan kedua orang tuanya, kakak dan adik yang telah dilupakan olehnya selama ini untuk mengejar mimpinya. Berpuluh tahun dia tidak kembali. Dia malu memperkenalkan kedua orang tuanya yang tiada apa kepada mertuanya yang Jenderal Besar beserta istri cantiknya, lulusan Universitas Luar Negeri yang ternama.

Tuhan telah mengutuk dirinya. Kedua orang tuanya telah wafat. Wafat dalam harap akan bertemu kembali dengan putra mereka yang pintar. Kakak dan adiknya hidup dalam damai dan tiada berharap sesenpun uang yang dimiliki olehnya. Dia merasa terusir, dia merasa tidak berharga bahkan di kalangan keluarganya sendiri.

“Jangan umbar cerita suksesmu. Kau makan uang rakyat, lalu akan kau bagikan dosa itu kepada kami ?.””Tidak”. Tegas kata-kata kakaknya. Dia terdiam. Tiada berguna uang segunung yang dimiliki olehnya. Tiada berguna properti termahal yang dimiliki olehnya. Bahkan saudara sedarahnya pun telah menghakimi dan menolak kehadiran dirinya.

Bersama lembayung sore itu, dia melangkah. Duduk di warung kopi. Tempat dia menemukan bocah legam itu. Memperhatikan kehidupan orang-orang kampungnya. Orang-orang yang hidup dalam kedamaian. Merekalah yang dulu memilih dirinya untuk duduk sebagai anggota dewan. Orang-orang yang tetap tenang dalam keterpurukan. Orang-orang tanpa dendam. Orang-orang dengan senyum lebar kepada dirinya. Tidak sadar bahwa merekalah sebagian orang-orang yang telah di khianati olehnya.

Sepintas, dia kembali menatap bocah lembayung itu dan berkata dalam hatinya, “Nak, jangan kau jadi seperti diriku.”

Luwuk, 08 Mei 2009.

Note : HANYA KESOMBONGANLAH YANG MEMISAHKAN MANUSIA SATU DENGAN MANUSIA LAINNYA.

Tidak ada komentar: