Tampilkan postingan dengan label Serba-Serbi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serba-Serbi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 November 2009

Demokrasi

Sobat, harus kita sadari, terkadang kita menilai dan meng-interpretasikan sesuatu menurut kemauan dan kepentingan kita. Kita lalai untuk mendapatkan pertimbangan dari orang lain yang lebih tahu ataupun mencari referensi-referensi yang berkaitan dengan itu. Bila interpretasi itu sudah sesuai dengan kehendak kita, dengan kemauan kita dan secara langsung ataupun tidak langsung menguntungkan buat kita dan golongan kita, maka hal lain akan kita anggap sebagai MASA BODOH.
Pun bila suatu keputusan dibuat, kita selalu berupaya agar keputusan itu menguntungkan buat kita maupun golongan kita. Hal yang wajar dan manusiawi sebenarnya. Yang tidak wajar adalah, bila keputusan itu menyangkut kebaikan dan hajat hidup orang banyak, akankah kita bersikeras untuk memaksakan kepentingan kita ? Rasanya perlu kedewasaan bersikap dan sifat legowo dari kita. Mengalah untuk kepentingan yang lebih besar, jauh lebih penting diatas sikap egoisme pribadi dan golongan apalagi yang sifatnya sesaat.
Bila suatu keputusan sudah dibuat atas kesepakatan banyak orang baik itu melalui musyawarah, voting atau apapun istilah lainnya. Yang terjadi seharusnya adalah kita wajib melaksanakan putusan itu terlepas kita tadinya berseberangan dengan keputusan yang dibuat. Putusan telah diambil, dan tentunya itu untuk kepentingan bersama yang jauh lebih besar. Tidak ada lagi kata penolakan setelah putusan diambil, semuanya harus dilakukan untuk kepentingan bersama. Suatu kepentingan yang lebih besar dan nantinya juga akan kita jalankan dan nikmati bersama.
Demokrasi adalah memberikan nilai-nilai lebih atas putusan bersama, dan menjalankan putusan itu tanpa men-dumel di belakang layar. Bila ini telah kita lakukan, maka kita telah menjadi manusia dewasa dan insan demokrasi yang sesungguhnya. Sikap masa bodoh ataupun menentang keputusan yang telah diambil bukanlah cerminan seseorang yang menganggap dirinya seorang INSAN DEMOKRASI. Istilah demokrasi adalah dari, bagi dan untuk KITA, bukan SAYA ataupun GOLONGAN.
Dalam demokrasi, sebelum satu keputusan diambil. Mekanisme untuk itu telah dijalankan, mulai barangkali dengan musyawarah bersama, musyawarah perwakilan ataupun melalui pemungutan suara terbanyak. Yang pasti, apapun keputusan yang diambil telah melalui suatu proses entah debat, adu argumentasi atau apapun itu. Keputusan yang diambil telah disaring melalui mekanisme yang ada dalam demokrasi itu sendiri. Jadi baik buruk suatu keputusan, tentunya telah melalui tahapan-tahapan pertimbangan terbaik untuk semuanya.
Sobat, hidup dalam alam demokrasi tidaklah sama dengan kita menggilai seorang wanita. Harus didapat, harus direngkuh dengan segala apapun risikonya. Segala hal tentangnya adalah pandangan subjectif kita. Semua tentang dia adalah yang terbaik. Demokrasi adalah kedewasaan bersikap bukan hanya tentang saya, tapi tentang kita. Menyangkut segala aspek. Bila kita hidup dalam alam demokrasi tapi bersikap seperti menggilai seorang wanita dan bersikap MASA BODOH, maka kita akan masuk dalam katagori kata Bang Haji Rhoma Irama … Terlalu !.
So, sobat … Istilah demokrasi sebenarnya telah dikenal sejak abad ke-5 SM di Yunani Kuno. Negara itu disamping merupakan negaranya para dewa juga merupakan contoh awal yang berhubungan dengan hukum dan demokrasi modern. Hal-hal yang telah dipraktekkan di sana telah berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan mengilhami banyak negara-negara di dunia.
Kata demokrasi berasal dari dua kata, “demos” yang berarti “rakyat” dan “kratos” yang berarti “pemerintahan”. Penggabungan dua kata diatas berarti PEMERINTAHAN RAKYAT atau sebagaimana dikatakan diatas makna secara keseluruhannya adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Demokrasi suatu negara saat ini menjadi suatu kunci dan indikator perkembangan politik suatu negara. Negara-negara yang tidak menerapkan kata kunci “demokrasi” dalam pemerintahannya akan dicerca oleh penduduk dunia dan diasingkan dalam pergaulan antar warga dunia. Sebaliknya negara yang telah menerapkan “demokrasi” walaupun hanya akal-akalan (hiks!) akan lebih diterima dan mendapatkan apreasiasi lebih.
Di negara tercinta kita sendiri, sejak awal kemerdekaan para pendiri negara telah memberikan penggambaran bahwa Indonesia adalah negara demokrasi. Dalam mekanisme pemerintahan yang berlaku Presiden yang saat ini dipilih langsung oleh rakyat bertanggung jawab kepada MPR, sebuah badan yang juga dipilih langsung oleh rakyat. Sedangkan dalam keseharian pemerintahan ada kontrol yang dilakukan oleh DPR yang anggota-anggotanya juga dipilih oleh rakyat. Om Jon belum terlalu mengerti akan peran DPD yang baru dalam dua pemilu ini ada dan juga dipilih langsung. Namun badan ini juga dipilih langsung oleh rakyat dan merupakan perwakilan daerah sehingga perannya kurang lebih akan sama dengan para anggota DPR yang ada di pusat, walaupun dengan kewenangan yang berbeda.
Tentunya demokrasi yang berlaku sekarang sangat berbeda dengan Demokrasi Pancasila, sebuah demokrasi semu yang diciptakan untuk melanggengkan kekuasaan Soeharto. Peran partai politik sekarang sangat transparan dan dukung-mendukung antar calon sangat kentara walaupun hanya sesaat, pada saat pemilu legislative dan pemilu presiden yang baru saja kita lewati.
Terpilihnya SBY sang Incumbent sebagai Presiden periode tahun 2009-2014, juga merupakan fenomena tersendiri. Saat ini ia merupakan suatu magnet yang kuat dan mendorong kekuatan-kekuatan sekitar untuk mendekat. Berdasarkan fakta terkini yang terjadi dalam lingkup internal PDIP dan Golkar, dan dengan asumsi hanya Hanura dan Gerindra yang berperan diluar pemerintahan walaupun terlalu dini untuk dikatakan sebagai oposisi, dia hampir menggenggam kekuasan mutlak baik di pemerintahan maupun di legislative. Mudah-mudahan ini merupakan sinyal bagus bagi Indonesia ke depan dan bukan merupakan hal sebaliknya.
Keterbukaan informasi seleksi para menteri juga memberikan harapan banyak pihak untuk mendapatkan telepon dari cikeas. Berita-berita yang dirilis di media massa membesarkan harapan itu. Dalam minggu-minggu ini Bapak SBY dan timnya telah mewawancarai banyak orang yang diindikasikan akan mengisi formasi kabinet mendatang. Fenomena yang membuat penjualan baterai cadangan HP meningkat pesat. Fenomena yang juga membuat pemilik HP enggan dihubungi oleh sembarang orang. Pokoknya jangan sampai peluang untuk mengisi formasi hilang hanya karena HP tidak aktif atau tidak bisa dihubungi. Fenomena yang membuat Om Jon dimarahin oleh Mas Boi … “Jon, jangan kelamaan nelponnya, gue lagi nunggu telpon dari cikeas nih”.
Status di jejaring pertemanan facebook juga menampakkan kondisi yang serupa. “….. menunggu telpon dari cikeas”, “….. maaf, sementara tidak terima telpon tidak penting”, “… selain SBY dan Team Seleksi dilarang telpon”, dan banyak status serupa menggambarkan euphoria serupa. Ya, gak apa-apalah namanya juga pengharapan. Om Jon sih gak muluk-muluk, tunggu telpon yang lain aja deh, sambil belajar demokrasi lagi … hehehehe.
Luwuk, 19 Oktober 2009

Jumat, 10 April 2009

BOSAN, SABAR DAN BERSYUKUR

Rasa bosan pasti pernah menyergap setiap manusia. Bosan terhadap situasi yang mengungkung dirinya. Bosan terhadap perilaku yang dihadapi olehnya. Bosan terhadap keadaan yang itu-itu saja. Bosan kepada bos yang otoriter, bosan terhadap anak buah yang tidak bisa menjaga kinerja, ataupun bosan terhadap hal-hal lain. Bilamana bosan kita sandingkan dengan kata SABAR, maka bosan merupakan suatu kata sifat yang berkonotasi negatif. Benarkah demikian ? Rasanya tidak. Bosan merupakan sifat lahiriah manusia. Tidak ada manusia yang tidak pernah mengalami rasa bosan. Siapapun dia suatu saat pasti pernah mengalami rasa bosan. Yang berbeda adalah bagaimana menghadapi rasa bosan yang mendera. Bila dihadapi dengan baik, rasa bosan dapat memicu semangat untuk lebih baik lagi. Namun bila tidak, dapat menyebabkan dis-motivasi yang tentunya menyebabkan ketidaknyamanan terutama pada diri sendiri. Bahkan anak bayipun dapat didera rasa bosan. Pernahkah sobat memperhatikan, adik bayi yang terlalu lama digolekkan di tempat tidur kemudian dia menangis. Kita berpikir dia lapar, kita akan memberikannya dot susu. Sambil menunggu susunya disiapkan, kita gendong dia dan kita bercakap-cakap mesra dengannya, tangisnya hilang dan berganti dengan tawa. Lalu sobat, bagaimanakah cara kita menghadapi rasa bosan ? Tidak ada formula yang tepat untuk itu. Karena keterbatasan yang ada, belum pernah penulis menemukan buku-buku pengetahuan yang menerangkan formula bagaimana cara menghadapi rasa bosan? Pun bila dibahas dalam beberapa buku manajemen yang penulis baca, sebatas bagaimana menghadapi stress. Stress Management merupakan suatu hal yang biasa dibahas dalam pelatihan-pelatihan SDM. Tak terhitung juga jumlah buku yang telah membahas mengenai masalah ini. Beberapa perusahaan yang telah menerapkan manajemen modern bahkan mempekerjakan beberapa psycholog untuk mengatasi stress pegawainya. Langkah-langkah ini ditempuh untuk menjaga kondisi yang kondusif dalam perusahaan, meningkatkan kinerja pegawai dan pada akhirnya tujuan utamanya adalah meningkatkan keuntungan perusahaan. Namun rasa bosan pekerja tetap ada, baik pada perusahaan tradisional maupun perusahan modern sekalipun. Bosan tentunya tidak bisa dipadankan dengan kata stress. Namun rasa bosan berlebihan dapat memicu stress. Rasa bosan yang berkepanjangan dan tidak dapat diatasi dengan benar menyebabkan orang yang mengalaminya menjadi stress. Bilamana bosan masih dikatagorikan sebagai hal yang normal dan wajar maka stress dalam hal ini sudah naik kelas dan disebut sebagai PENYAKIT. Tapi kita tidak pernah bosan terhadap suatu hal yang menjadi hobby kita. Seseorang yang hobby memancing bahkan bisa mengalahkan nelayan kawakan sekalipun. Bila sudah memancing dia sudah tidak ingat lagi pada waktu. Lupa makan, lupa minum, lupa pada apapun bahkan bisa lupa sudah punya anak istri yang menunggu dirumah. Pertanyaannya adalah, bisakah kita menjadikan aktivitas keseharian kita sebagai hobby? atau bila kita sudah menjadikan rutinitas kerja kita sebagai hobby, apakah kita masih ingat akan waktu untuk hal lain ? Sobat, lihatlah hebatnya Orangtua kita. Pada saat kita curhat menumpahkan kekesalan kita, pada saat kita berkeluh-kesah menguraikan kebosanan kita, hanya ada satu kata sakti yang mereka ulang-ulang, “Sabar nak, hadapi dengan iklash”. Ketika sang anak putus cinta dan mengurung diri di kamar berhari-hari, merekapun akan menasehati panjang lebar dan kalimat-kalimat sakti itupun kembali berulang, “Sabar nak, mungkin dia bukan jodohmu, nanti ada orang yang tepat untukmu”. Kata dan kalimat yang mereka ucapkan selalu sama namun ibarat oase di padang pasir, merupakan penyejuk dahaga yang tiada terkira. Pada saat kita menghadapi situasi yang tidak enak di tempat kerja. Gaji yang tidak naik, pangkat yang tidak naik, atasan yang pilih kasih. Kita merasa tidak adil, kita merasa dibohongi, …. “kenapa si A yang kerjanya biasa-biasa saja bisa naik pangkat, saya tidak?” … “Saya sudah kerja keras, memenuhi segala kompetensi yang disyaratkan, kenapa pangkat saya tidak naik?”. Manusiawi, setiap orang mempunyai asa, semua orang memiliki keinginan untuk mendapatkan penghargaan dari orang sekitar, apalagi dari perusahaan tempat di mana dia mengabdi. Pada saat kejadian itu kita merasa hanya kita manusia yang paling malang di dunia, hanya kita yang mendapat perlakuan itu, ….. hanya kita ….., hanya kita …. Ya sobat, hal yang jamak dalam kehidupan. Pada saat didera kesusahan kita merasa Tuhan tidak bertindak adil kepada kita. Kita merasa Tuhan juga pilih kasih. Namun pada saat situasinya kita balik, pernahkah kita mengingat Tuhan pada saat kita diberi kesenangan, diberikan kemewahan yang melimpah …. Berkah yang tidak putus-putus? Pernahkah kita mengingat-Nya pada saat itu? Menghadapi kebosanan ditempat kerja bukanlah suatu perkara yang mudah. Apalagi kebosanan yang dipicu oleh ketidakpuasan. Kata sabar saja tidak cukup. Harus kita sadari tidak ada satupun perusahaan di muka bumi ini yang mampu memenuhi semua tuntutan karyawannya. Selalu ada gap antara tuntutan karyawan dan kebutuhan perusahaan. Tidak mungkin dalam satu unit semua orang adalah bos. Posisi yang tersedia untuk level yang lebih tinggi selalu lebih sedikit dibandingkan dengan level yang ada di bawahnya. Masalahnya adalah setiap orang merasa dia mampu untuk menduduki suatu jabatan namun manajemen beranggapan lain. Sistem mutasi dan promosi yang telah disusun dengan sangat baik sekalipun tidak akan mampu memuaskan harapan semua karyawan. Kompetisi yang disusun secara benar sedikit banyak membantu mengobati kekecewaan. Pengalaman beberapa teman yang bosan karena telah begitu lama menempati jabatan di suatu unit kerja dapat dijadikan pelajaran. Berjauhan dengan keluarga demi obsesi pangkat dan penghasilan yang lebih tinggi tetap dilakoni. Tahun pertama bekerja dengan semangat yang luar biasa, lembur sampai malam hari tanpa bayaran pun tetap dilakukan. Tahun kedua dengan harapan mendapatkan peningkatan status, semangat juang masih menyala. Tahun ketiga semangat makin menurun, sudah tidak ada lagi pekerjaan yang dilakukan diluar jam kerja. Tahun keempat semakin kendor, … begitu terus dan tidak menutup kemungkinan semakin lama semangat itu semakin padam. Ya, pada saat itu rasa bosan menghempas-hempaskan semangat kita. Namun sobat, percayalah, manajemen pada saatnya akan melihat situasi itu. Walaupun tidak sekarang, suatu saat sobat akan mendapatkan pengakuan yang sesungguhnya. Keringat dan pengorbanan yang dilakukan pada saatnya akan terbayar lunas. Untuk hal ini marilah kita banyak belajar, marilah kita banyak berguru kepada teman-teman, saudara-saudara kita yang telah mengalami fase itu. Pada saat kita telah menunaikan kewajiban kita, memang tidak ada salahnya menuntut hak. Namun tentu ada cara yang elegan untuk mendapatkan itu. Sobat sekalian, diluar hal yang diatas, mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus selalu mengasah seluruh kemampuan dan terus men-charged semangat hidup kita tiap hari untuk tetap mampu bertahan. Terlepas dari segala kepercayaan yang sobat anut, teori Evolusi Darwin mengajarkan bahwa hanya yang kuat dan mampu beradaptasi yang menang. Pernah ada kejadian yang menimpa satu perusahaan besar yang tidak usah kita sebutkan disini. Berdasarkan penilaian dan dukungan ahli-ahli manajemen ternama, mereka melakukan golden shake hand kepada para pegawainya karena mengasumsikan kinerja pegawai yang ada kurang “oke”. Apa lacur, perusahaan dimaksud kemudian di tinggal pegawai-pegawai terbaiknya. Bukannya semakin “oke” malah kinerja perusahaan semakin menurun. Pegawai yang baik pergi dan menyisakan pegawai-pegawai lama yang kinerjanya memang loyo. Coba sekarang sobat perhatikan, kebijakan ini sekarang tidak lagi populer pada perusahaan-perusahaan besar. Mereka lebih cermat dan kalaupun ada penawaran, ini hanya diberikan kepada orang-orang tertentu dalam perusahaan yang memang kinerjanya sudah tidak bisa di andalkan. Sobat tentunya merupakan orang-orang terbaik yang dimiliki oleh perusahaan. Dimanapun sobat berada, pada posisi apapun, kobarkan terus semangat juang untuk hasil yang lebih baik. Jangan menyerah, tetap semangat … Lihat sisi baliknya dari pengorbanan yang dilakukan. Bila hal terbaik telah kita lakukan, perusahaan akan semakin menghargai kita dan di sisi lain sobat tetap akan menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Pun bila situasi terburuk terjadi pada perusahaan tempat mengabdi, dengan cepat nama sobat menjadi incaran perusahaan lain. Sobat sekalian, kita semua hanya bisa ber-iktiar mendapatkan yang terbaik untuk diri kita, keluarga kita serta orang-orang lain yang kita kasihi. Untuk merekalah kita bekerja, untuk merekalah kita berkarya dengan segenap kemampuan. Untuk itu, jangan pernah dilupakan oleh kita sebagai orang yang beriman bahwa disamping kesabaran yang telah diajarkan dengan baik oleh Orangtua kita. Satu hal lagi yang tidak bisa kita lupakan, dalam situasi apapun : BERSYUKUR. Bersyukur atas segala nikmat yang telah kita peroleh dan bersyukur atas anugerah yang telah diberikan kepada kita. Setiap kali doa kita sampaikan, “Ya Allah, Yang Maha Pengasih …. terima kasih atas segala karunia yang telah Engkau berikan …”. Percayalah sobat bilamana kita sabar dan selalu bersyukur, hidup kita akan senantiasa lapang dan terhindar dari segala cobaan dan Insya Allah, tidak ada lagi rasa bosan yang melanda. Sobat yang budiman, catatan ini jauh dari keinginan kami untuk menggurui, apalagi mengesankan bahwa kami lebih hebat dari sobat sekalian. Tidak, bukan itu. Sobat sekalian tentu punya pengalaman yang berharga dan ditempa pengalaman yang jauh lebih hebat dibandingkan kami. Saling berbagi, saling mengingatkan, saling bertukar pengalaman dan kesediaan sobat berinteraksi dengan kami merupakan suatu hal yang tidak bernilai di hati kami. Catatan ini hanya merupakan refleksi kami untuk lebih introspeksi diri. Ajang berbagi kepada sobat sekalian. Bagaimana kita saling mengingatkan antar keluarga, antar saudara dan antar teman. Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT semata, kita manusia sangat jauh dari sifat itu. Semoga bermanfat. Wassalam,

TARGET ..........

Ups …. Om Jon dapat sms dari salah satu penggemar di milis ini …”target triwulan satu gimana bro? bagus ? prorata target tercapai khan?” … “situasi lagi berat nih, dampak krisis global kayaknya mulai menyentuh … susah cari target dalam kondisi sekarang ….” Yoi bro, … tapi tentunya dalam kondisi perekonomian sekarang maupun pada saat situasi normal, target adalah sesuatu yang normal bukan? Kita tetap harus mempunyai target dalam posisi dan kondisi apapun … adanya target menyebabkan ‘hidup menjadi lebih hidup …’ Om jon jadi teringat pelatihan-pelatihan yang lalu pernah diikuti sebelum terjun sebagai lone ranger sekarang … bukan yang buka tutup buka tutup itu loh … tapi yang benar-benar bisa di pakai dalam dunia pen-target-an seperti sekarang … walaupun gak ada hubungannya, buka tutup ala Kang Enry kayaknya perlu juga buat refreshing ….hehehe So sobat mari kita mulai dengan sedikit serius dengan kata TARGET ini … apa sih target itu? Bagaimana cara mencapainya? Target yang realistis itu yang seperti apa? Cita-cita itu seperti apa? Motivasi apa yang mendorong untuk mencapainya … dan lain-lain pertanyaan yang mencakup itu. Kalau target harus realistis … apakah impian om jon untuk dapat ciuman Luna Maya juga realistis … hush!!! nanti banyak yang cemburu … Nah sobat …. Bilakah anda menetapkan target-target dalam hidup ? target pribadi yang hendak dicapai dalam kurun waktu tertentu dalam hidup anda, target yang hendak dicapai di tempat pekerjaan, target kapan menikah, target yang ditetapkan perusahaan, atau pun target-target lain yang tentunya sobat sendirilah yang mengetahuinya. Kalau belum, sekarang saatnya, karena dengan adanya target menyebabkan kita fokus dan mengerahkan segala upaya untuk mendapatkannya. Menjadi fokus atas suatu tujuan bukanlah suatu perkara yang mudah namun bukan juga hal yang mustahil untuk dilakukan. Sobat penggemar sepak bola pasti mengenal Jurgen Klinsman. Pada saat pertama kali ditunjuk sebagai pelatih kepala tim nasional sepak bola Jerman untuk Piala Dunia 2008, metode melatihnya sempat dipertanyakan oleh masyarakat dan media massa setempat. Bukannya berpanas-panas di lapangan demi meracik strategi yang jitu untuk tim sebagaimana layaknya pelatih lain, dia malah membawa anak-anak asuhnya untuk “pelesiran”. Miroslave Klose, salah satu striker andalannya setiap pagi usai bangun tidur dia perintahkan untuk menendang bola pada satu target tertentu di kamarnya. Belum lagi hal-hal unik lainnya yang dia lakukan bersama pasukannya. Bermain hoki, belajar menembak dan hal-hal yang tidak biasa dalam teknik latihan tim sepak bola dia lakukan. Unik, ya unik. Tapi hasil akhir dari pasukan yang sebelumnya tidak diperhitungkan di Piala Dunia tentunya tidak usah kami jelaskan lagi di sini. Beragam cara dilakukan untuk mencapai target, dan itu sah-sah saja sepanjang tidak menyimpang dari norma yang berlaku. Jangan karena target mendapatkan bunga desa yang ada di kampung sebelah kemudian pergi ke dukun … “Bole barenti jo”, kata orang Luwuk. Hal ini tentunya tidak baik, musyrik kalo kata pak ustadz. Fokus pada tujuan kayak Om Jurgen diatas juga sangat penting. Namun yang pasti, pentingnya menetapkan target sepenting kita menjalani hidup. Tanpa target ibarat berjalan tanpa tujuan … tidak tahu mau kemana dan apa yang harus dilakukan. Untuk membantu anaknya biar menjadi fokus, bila kita ingat … masa kecil dulu orangtua kita sering berkata kepada anaknya, “nanti kalau ranking satu, bapak belikan sepeda”. Kita terpacu dan belajar dengan giat sehingga sepeda idaman yang dijanjikan dapat kita peroleh. Siang malam, pagi petang dan di setiap waktu dalam bayangan kita adalah sepeda baru. Ya, secara tidak sadar iming-iming hadiah membuat kita belajar lebih giat walaupun tujuannya sudah melenceng. Bukan lagi ranking satu yang menjadi tujuan namun dalam hal ini tujuan utamanya adalah SEPEDA BARU. Apakah itu salah … tentu tidak, adanya hadiah itu menyebabkan kita terfokus untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai. Adanya hadiah membuat motivasi untuk mencapai sesuatu (yang sebenarnya target) yang kita bidik menjadi lebih mudah. Hari-hari kita jalani tidak terasa membosankan. Kita terus terpacu untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dan lebih baik lagi … perjalanan beratus kilometer … mengarungi selat yang luas hanya untuk melakukan presentasi pekerjaan … dilakoni tanpa lelah … demi sesuatu hal yang hendak di capai. Target tentunya tidak bisa disamakan dengan cita-cita kita pada waktu kecil dulu. “Cita-cita ku ingin menjadi pilot”, “Cita-citaku ingin jadi Presiden”, begitu syair nyanyian yang biasa kita nyanyikan pada waktu kecil dulu. Tapi semua itu semu bukan? Cita-cita adalah suatu angan-angan, bayangan yang ingin kita raih tanpa kita tahu bagaimana cara mendapatkannya. Bahkan lebih banyak kita tidak tahu, apa sih cita-cita yang ingin kita raih itu. Target sebaliknya lebih realistis. Ada tahapan-tahapan yang terukur dan terencana untuk mendapatkannya. Bila kita konsisten dengan cita-cita kita pada masa kecil dulu dan mampu meraihnya, itu merupakan nilai tambah. Tapi umumnya pada sebagian besar orang cita-cita itu selalu berubah. Bila berkehendak ingin menjadi anggota legislative contohnya, tentu kita harus menjadi anggota partai politik, karena lewat itulah cita-cita bisa tercapai. Jangan mimpi menjadi anggota dewan tapi membenci politik dan tidak duduk sebagai minimal anggota partai. Bila kita telah ada didalamnya (menjadi anggota) dan melakukan langkah-langkah supaya terpilih sebagai wakil rakyat, baru namanya menetapkan target tidak sebatas cita-cita … kira-kira begitu ya …hehehe Sobat sekalian … tahapan-tahapan untuk mencapai target ini banyak dibahas dalam dunia kerja, pelatihan, maupun buku-buku ilmiah yang terkait. Om Jon sih, agak bingung membaca buku-buku itu saking banyaknya teori yang disampaikan. Bahkan dalam satu buku, tahapan-tahapan yang diuraikan bisa mencapai puluhan item. Boro-boro mengikuti langkah itu, membacanya saja Om Jon sudah pusing dan ngantuk duluan. Kalau mendengarkan acara di TV kayak sesinya Mario Teguh sih, masih mending. Masuk dalam otak juga, walau habis acara juga hilang ke bawa angin … gimana gak, wong habis itu liat Cinta Fitri … hehehe. Tapi setelah dicerna, dan belajar dari sana-sini, sebenarnya menurut Om Jon nih … tahapan-tahapan itu dapat dibagi cuma dalam lima langkah mudah, yakni : menuliskan hal-hal yang ingin dicapai, merencanakan dan menetapkan prioritas, melaksanakan, melakukan evaluasi serta konsisten dan fokus pada tujuan yang ingin diraih. 1). Menulis semua target yang ingin diraih merupakan langkah awal. Apapun yang ingin sobat raih, sebaiknya ditulis. Sebanyak-banyaknya, mau realistis ataupun tidak itu urusan nanti. Ditulis pada agenda, diary, notebook, dinding atau dimana saja boleh … asal jangan di dinding tetangga ataupun diary orang lain. Simpan catatan tersebut baik-baik. Kalau perlu tempelkan di kamar tidur, ruangan kerja ataupun tempat lain yang gampang terlihat. Kenapa? Karena itu akan membuat sobat selalu termotivasi. Menurut pengamatan pakar nih, katanya cara ini sangat efektif sekali untuk mecapai target. Begitu bangun tidur sudah disambut dengan tulisan yang membuat semangat berkompetisi. Ada efek psikologis yang tumbuh dengan sendirinya di dalam diri anda. 2.) Rencanakan dan Tetapkan Prioritas. Setelah sobat menuliskan semua keinginan sobat, rencanakan mana yang akan sobat raih terlebih dahulu dan menjadi prioritas hidup. Mulai deh … sobat coret-coret tulisan yang dibuat, mana yang prioritas, mana yang cuma cita-cita semu, kasih komentar juga kenapa itu menjadi prioritas perencanaan. Ini penting bagi sobat. Penetapan prioritas menyebabkan kita menjadi fokus. Kata mbak Eni Kusuma, … itu tuh mantan PRT yang beralih menjadi motivator, “Fokus pada target maka akan sukses”. Singa, kata dia tetap fokus memelototi target yang di incar meskipun dirubung nyamuk ganas di tengah hutan. Bagaimana cara merencanakan target yang realistis, salah satunya dengan mengukur kemampuan dan sumber daya. Ilmu lama yang kita pelajari juga masih layak di pakai yakni merencanakan dengan pola 5 W + 1 H. 3). Laksanakan. Yups … Jalankan semua rencana yang sudah sobat tulis. Kebanyakan kita hanya menulis dan menempelkan target yang ingin dicapai, tapi tidak pernah benar-benar menjalankan rencana tersebut. Langkah awal menjalankan rencana memang sulit, lebih banyak me-reka-reka apa yang harus dilakukan. Pentingnya prioritas akan kelihatan disini. Nah sobat … Salah satu cara yang diajarkan dibuku untuk menjalankan target kita adalah dengan membagi tempo pelaksanaannya. Misalnya, target yang ditetapkan untuk satu tahun, maka kita dapat membagi pelaksanaannya menjadi 4 bagian. Triwulan 1, triwulan 2 dan seterusnya. Pembagian ini juga merupakan bagian penting dari tahapan melaksanakan target. Pada saat kita mempunyai target jangka panjang, tak pelak kadang kita merasa lelah dan merasa kita tidak sanggup untuk mencapainya. Dalam hal ini motivasi saja tidak cukup. Nah sobat, untuk mengatasi hal ini membuat pelaksanaan jangka pendek akan membantu. Carilah detail dari rencana jangka pendek tersebut dan bandingkan pencapaiannya dalam periode yang telah di jalankan. Usahakan target tercapai dalam periode jangka pendek tersebut bila perlu melebihi sehingga akan timbul motivasi tersendiri untuk mencapai tahapan lanjutannya. Yakin dengan kemampuan yang dimiliki juga merupakan hal yang sangat penting. 4).Evaluasi. Melakukan evaluasi merupakan langkah lanjutan pada saat kita melaksanakan rencana target. Langkah demi langkah kita evaluasi, seberapa jauh kita telah berada, dimana kendalanya dan apakah kita dapat mencapai target dimaksud dalam waktu yang telah direncanakan. Segera lakukan rencana cadangan bila pelaksanaannya telah menyimpang dari tujuan semula. Temukan rintangan dan cara mengatasinya sehingga pelaksanaan rencana dapat berjalan mulus. Evaluasi ini dapat lebih mudah kita lakukan bilamana kita mempunyai jadwal pelaksanaan. Pemakaian jadwal juga berarti kita menggunakan waktu dengan baik untuk mencapai tujuan ditetapkan. Jangan lupa, bilamana menurut evaluasi kita pelaksanaan rencana sudah tidak berjalan dengan semestinya, harus segera di ambil sikap. Meneruskan atau memberhentikan rencana target itu. Jangan takut menghentikan, daripada waktu terbuang sia-sia langkah ini tetap lebih baik dilakukan untuk kemudian menetapkan rencana dan tujuan baru. Dunia tidak akan berhenti hanya karena kita gagal mencapai suatu target, berani mencoba hal yang lain justru akan lebih mudah bila kita mampu mempelajari sebab-sebab kegagalan kita. Bila menurut evaluasi, target telah dilaksanakan on track, itu tentu lebih baik dan akan lebih baik lagi bila kita meningkatkan pencapaian dengan target yang lebih tinggi dalam pelaksanaannya. Periode pencapaian selanjutnya tentunya akan lebih mudah bukan? 5) Konsisten dan fokus dengan apa yang ingin sobat raih, merupakan tahapan terakhir dari langkah-langkah untuk mencapai target. Konsisten dengan jalan yang harus sobat lewati. Tahapan ini sangat penting. Banyak pebisnis yang tidak konsisten dan akhirnya mereka tidak bisa merasakan buah dari hasil rencana dan pelaksanaan kerja mereka. Segala upaya yang dilakukan sia-sia. Membuang waktu, biaya dan sumber daya secara percuma tanpa hasil yang dapat dinikmati. Seorang pebisnis kenalan Om Jon pernah merasakan hal ini. Bidang usaha supermarket yang dia geluti hampir hancur lebur akibat in-konsistensi ini. Ceritanya pada saat bisnis supermarket nya berkembang pesat dia bernafsu untuk berinvestasi di hulunya. Pabrik snack dan makanan ringan coba dia bangun, dia berpikir supermarket yang dia miliki mampu untuk menampung dan menjual produk yang dihasilkan. Namun dia tidak konsisten, pada saat bangunan sudah jadi dan mesin mau di kirim, dia merasa hitungan bisnisnya salah dan muncul ketakutan untuk bersaing dengan pabrikan besar yang sejenis. Dia mengalihkan pembiayaan pabrik snack dan makanan ringan tersebut menjadi usaha perbengkelan dan pengadaan spare part kendaraan. Main business-nya bukan di situ. Jalur distribusi pengadaan serta penjualan belum dia kuasai. Sumber daya serta kemampuannya tidak cukup untuk mengelola bisnis dimaksud. Investasi yang dikeluarkan sudah terlanjur besar dan menggunakan dana perbankan pula. Alhasil usaha itu rontok di tengah jalan, sementara pokok dan bunga tetap harus dibayar. Usaha induknya hampir rontok untuk menopang usaha lain yang tidak menghasilkan itu. Untungnya pada saat akhir dia mampu bangkit dan membangun kembali bisnisnya. Pengalaman yang buruk, tapi membuat fokus bisnisnya kembali. Sekarang usahanya sudah kembali ke kondisi semula walaupun perjuangan untuk itu sangat berat. So sobat, belajar dari pengalaman tersebut bila tahapan-tahapan mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan telah kita tetapkan yang tentunya dengan berbagai pertimbangan, jalankan segala sesuatunya dengan fokus dan konsisten. Semuanya harus kita perhitungkan diawal, sumber daya, sarana, kemampuan dan lain-lain. Nah sobat, jangan ragu untuk memulai. Dengan tulisan ini bukan berarti om jon telah berhasil mencapai target, karena hasil yang dicapai ukurannya relative. Hasil pencapaian sebenarnya bisa diukur dengan angka, tapi factor keberhasilan yang dituntut setiap orang pasti akan berbeda kan? Yups … ini cuma ajang berbagi dengan sobat sekalian sebagaimana Om Jon juga membutuhkan hal yang sama dari sobat sekalian. Tentang cara mencapai target, kita tentunya punya cara masing-masing. Oke, sampai di sini dulu. Tetap Semangat! Keep Smile! Keep Luna … lalui hari-hari sobat dengan sukses ………………… Luwuk, 03 April 2009

KENAPA GOLPUT

Hehehe … Om Jon ditanya sama penggemar, “nanti pemilu jangan lupa ya, ‘coblos’ eh ‘contreng’ partai no. anu nomor urut sekian …”. Begitulah kawan, kalo diperlukan suara kita yang satu menjadi sangat berharga, jauh lebih berharga dari segala macam hal yang ada di dunia. Apalagi untuk caleg-caleg yang sangat mendambakan duduk di kursi kebesaran sebagai WAKIL RAKYAT. Yups, pada saat ini, siapapun kita asal mempunyai hak pilih, maka anda akan di hargai setinggi-tingginya oleh para calon wakil rakyat itu. Dan para Caleg itu dengan demikian menjadi penggemar anda … enak eui, banyak penggemar ……………. Ada teman yang menyatakan bahwa para caleg itu tak ubahnya para pengemis. Mereka melakukan segala cara, namun sebenarnya mereka mengemis kepada kita para pemilik suara supaya memilih mereka. Iming-iming, janji-janji, jargon, semboyan atau apapun yang sejenis dengan itu mereka sampaikan dengan harapan, pemilih akan tertarik. Boleh dong, kita sebagai pemilih agak jual mahal … wong lagi dibutuhkan, kesempatan dong … jadi klo para caleg menyatakan “pilih saya “, balas tanya … gw dapat apa klo milih lu … hehehe. Tapi yang pasti sesuai saran dari para pakar, jangan membeli kucing dalam karung, kalo membeli karungnya boleh, lumayan buat nga-rungin ente hehehe…….. Hal diatas kayaknya masih mending, menurut ulasan di media massa yang setiap hari kita dengar atau baca. Ada caleg yang dengan bangganya ber-fhoto dengan anaknya sembari di tambahahi tulisan, “Papa-nya si artis ‘anu’ …”, ada juga yang dengan pede-nya berfhoto dengan ‘Barrack Obama’, menumpang beken pada ‘David Beckham” dan lain-lain cara yang mereka lakukan. Kalo Pa De Obama atawa Kang David tau, kira-kira gimana ya …. Pakar yang lain menyatakan para caleg yang begitu kurang Percaya diri … benar gak sih ??? Sah-sah aja sih menurut Om Jon, namanya juga promosi. Om Jon aja klo jadi caleg mungkin kayak begitu. Klo perlu Om Jon malah mo fhoto ama Bang Mamat, itu tuh “jeger” pasar induk yang di takuti orang sekampung. Klo majang fhoto dia kan orang kampung jadi takut, nanti klo Bang Mamat ngamuk bisa barabe … jadi pikiran mereka, pilih Om Jon aja deh, biar Bang Mamat gak ngamuk …. hehehe Sobat, sebagai Warga Negara yang baik, sudah selayaknya kita menggunakan hak pilih kita. Terlepas bahwa kita tidak sreg dengan partai peserta pemilu yang Nauzubillah banyaknya, program-program yang ditawarkan yang juga gak kalah gak jelasnya, kualitas para caleg yang meragukan, lembar kertas suara yang juga RUAR BIASA besar… dan alasan-alasan lain. Memilih adalah cara demokrasi yang paling efektif untuk mengatur bangsa kita yang besar ini, kata pakar-pakar loh bukan kata Om Jon …. hehehe. Dilain pihak, MUI juga telah menyampaikan fatwa haram untuk golongan yang tidak memilih atawa yang biasa kita sebut GOLPUT. Terlepas dari segala kontroversi fatwa itu, Om Jon sih gak mau komentar. Tapi klo menurut Om Jon nih, klo sobat adalah warga negara serta pemeluk Islam yang baik mending ‘nyontreng’ deh … gak ada ruginya kok, jangan karena suara sobat nanti kita malah dapat wakil yang gak jelas juntrungannya … nyontreng aja ntar di semprit lo …. Om Jon sebenarnya juga sangat berniat untuk ikut ‘nyontreng’ pada pemilu tanggal 9 April nanti. Belum tau sih, mo nyoblos partai apa atawa caleg yang mana. Tapi kembali lagi, sebagai warga negara yang baik tentunya Om Jon juga ingin menggunakan hak pilih dengan sebaik-baiknya pula. Masalah memilih apa dan siapa itu mah, urusan nanti di bilik suara. Namanya juga kan RAHASIA toh …… kecuali klo Mbak Luna jadi caleg, sudah pasti Om Jon bakalan nyoblos Mbak Luna nya, eit … nyontreng ding ! Tapi apa mau di kata, sampai dengan hari ini Om Jon belum mempunyai undangan untuk menunaikan kewajiban itu. Surat undangan iku kan merupakan kartu sakti untuk ikut pesta rakyat. Klo gak punya tapi datang juga ke TPS mo ngapain … ntar dimarahin Hansip atawa lebih gawat di kira provokator lagi … ah gak ah, mending bobok aja di rumah, partai apapun, siapapun yang menang ikut aja deh … toh sebagian ustaz juga bilang katanya nyontreng itu hukumnya fardu kifayah, biar aja deh yang lain nyontreng toh dengan itu kewajiban kita jadi gugur … Lebih baik klo ada yang hajatan dan kita ikut hadir, lumayan dapat makan gratis biarpun celingak-celinguk kiri kanan gak ada yang di kenal hehehe, namanya juga tamu gak di undang. Tapi klo ini … wah, bisa barabe urusannya ……………….. So sobat, dengan segala hormat izinkan Om Jon untuk tidak ikut berparti-sisapi dalam pesta rakyat tahun ini. Bukan maksud hati untuk melakukan itu. Om Jon juga tidak mau menyalahkan KPU, pekerjaan mereka berat dan udah sangat banyak. Biarkan masalah DPT ini menjadi masa lalu kita, jangan di jadikan alasan untuk menggugat keabsahan PEMILU Legislatif 2009 ini. Tanpa Om Jon sobat sekalian dan warga negara yang lain toh ada untuk mewakili suara Om Jon. So, biarin sobat aja dan para warga negara lain yang melakukannya. Om Jon cuma turut berdoa dan berharap semoga sobat dan para pemilih dapat menggunakan hak pilihnya dengan baik dan memilih wakil rakyat yang betul-betul memperjuangkan aspirasi … Amin. Mohon maaf juga, walaupun tidak ikut nyontreng tapi Om Jon ikut menikmati hari libur pada tanggal 09 April nanti ………………….. Luwuk, 07 April 2009