Rasa bosan pasti pernah menyergap setiap manusia. Bosan terhadap situasi yang mengungkung dirinya. Bosan terhadap perilaku yang dihadapi olehnya. Bosan terhadap keadaan yang itu-itu saja. Bosan kepada bos yang otoriter, bosan terhadap anak buah yang tidak bisa menjaga kinerja, ataupun bosan terhadap hal-hal lain.
Bilamana bosan kita sandingkan dengan kata SABAR, maka bosan merupakan suatu kata sifat yang berkonotasi negatif. Benarkah demikian ? Rasanya tidak. Bosan merupakan sifat lahiriah manusia. Tidak ada manusia yang tidak pernah mengalami rasa bosan. Siapapun dia suatu saat pasti pernah mengalami rasa bosan. Yang berbeda adalah bagaimana menghadapi rasa bosan yang mendera. Bila dihadapi dengan baik, rasa bosan dapat memicu semangat untuk lebih baik lagi. Namun bila tidak, dapat menyebabkan dis-motivasi yang tentunya menyebabkan ketidaknyamanan terutama pada diri sendiri.
Bahkan anak bayipun dapat didera rasa bosan. Pernahkah sobat memperhatikan, adik bayi yang terlalu lama digolekkan di tempat tidur kemudian dia menangis. Kita berpikir dia lapar, kita akan memberikannya dot susu. Sambil menunggu susunya disiapkan, kita gendong dia dan kita bercakap-cakap mesra dengannya, tangisnya hilang dan berganti dengan tawa.
Lalu sobat, bagaimanakah cara kita menghadapi rasa bosan ? Tidak ada formula yang tepat untuk itu. Karena keterbatasan yang ada, belum pernah penulis menemukan buku-buku pengetahuan yang menerangkan formula bagaimana cara menghadapi rasa bosan? Pun bila dibahas dalam beberapa buku manajemen yang penulis baca, sebatas bagaimana menghadapi stress.
Stress Management merupakan suatu hal yang biasa dibahas dalam pelatihan-pelatihan SDM. Tak terhitung juga jumlah buku yang telah membahas mengenai masalah ini. Beberapa perusahaan yang telah menerapkan manajemen modern bahkan mempekerjakan beberapa psycholog untuk mengatasi stress pegawainya. Langkah-langkah ini ditempuh untuk menjaga kondisi yang kondusif dalam perusahaan, meningkatkan kinerja pegawai dan pada akhirnya tujuan utamanya adalah meningkatkan keuntungan perusahaan. Namun rasa bosan pekerja tetap ada, baik pada perusahaan tradisional maupun perusahan modern sekalipun.
Bosan tentunya tidak bisa dipadankan dengan kata stress. Namun rasa bosan berlebihan dapat memicu stress. Rasa bosan yang berkepanjangan dan tidak dapat diatasi dengan benar menyebabkan orang yang mengalaminya menjadi stress. Bilamana bosan masih dikatagorikan sebagai hal yang normal dan wajar maka stress dalam hal ini sudah naik kelas dan disebut sebagai PENYAKIT.
Tapi kita tidak pernah bosan terhadap suatu hal yang menjadi hobby kita. Seseorang yang hobby memancing bahkan bisa mengalahkan nelayan kawakan sekalipun. Bila sudah memancing dia sudah tidak ingat lagi pada waktu. Lupa makan, lupa minum, lupa pada apapun bahkan bisa lupa sudah punya anak istri yang menunggu dirumah. Pertanyaannya adalah, bisakah kita menjadikan aktivitas keseharian kita sebagai hobby? atau bila kita sudah menjadikan rutinitas kerja kita sebagai hobby, apakah kita masih ingat akan waktu untuk hal lain ?
Sobat, lihatlah hebatnya Orangtua kita. Pada saat kita curhat menumpahkan kekesalan kita, pada saat kita berkeluh-kesah menguraikan kebosanan kita, hanya ada satu kata sakti yang mereka ulang-ulang, “Sabar nak, hadapi dengan iklash”. Ketika sang anak putus cinta dan mengurung diri di kamar berhari-hari, merekapun akan menasehati panjang lebar dan kalimat-kalimat sakti itupun kembali berulang, “Sabar nak, mungkin dia bukan jodohmu, nanti ada orang yang tepat untukmu”. Kata dan kalimat yang mereka ucapkan selalu sama namun ibarat oase di padang pasir, merupakan penyejuk dahaga yang tiada terkira.
Pada saat kita menghadapi situasi yang tidak enak di tempat kerja. Gaji yang tidak naik, pangkat yang tidak naik, atasan yang pilih kasih. Kita merasa tidak adil, kita merasa dibohongi, …. “kenapa si A yang kerjanya biasa-biasa saja bisa naik pangkat, saya tidak?” … “Saya sudah kerja keras, memenuhi segala kompetensi yang disyaratkan, kenapa pangkat saya tidak naik?”. Manusiawi, setiap orang mempunyai asa, semua orang memiliki keinginan untuk mendapatkan penghargaan dari orang sekitar, apalagi dari perusahaan tempat di mana dia mengabdi.
Pada saat kejadian itu kita merasa hanya kita manusia yang paling malang di dunia, hanya kita yang mendapat perlakuan itu, ….. hanya kita ….., hanya kita …. Ya sobat, hal yang jamak dalam kehidupan. Pada saat didera kesusahan kita merasa Tuhan tidak bertindak adil kepada kita. Kita merasa Tuhan juga pilih kasih. Namun pada saat situasinya kita balik, pernahkah kita mengingat Tuhan pada saat kita diberi kesenangan, diberikan kemewahan yang melimpah …. Berkah yang tidak putus-putus? Pernahkah kita mengingat-Nya pada saat itu?
Menghadapi kebosanan ditempat kerja bukanlah suatu perkara yang mudah. Apalagi kebosanan yang dipicu oleh ketidakpuasan. Kata sabar saja tidak cukup. Harus kita sadari tidak ada satupun perusahaan di muka bumi ini yang mampu memenuhi semua tuntutan karyawannya. Selalu ada gap antara tuntutan karyawan dan kebutuhan perusahaan. Tidak mungkin dalam satu unit semua orang adalah bos. Posisi yang tersedia untuk level yang lebih tinggi selalu lebih sedikit dibandingkan dengan level yang ada di bawahnya. Masalahnya adalah setiap orang merasa dia mampu untuk menduduki suatu jabatan namun manajemen beranggapan lain. Sistem mutasi dan promosi yang telah disusun dengan sangat baik sekalipun tidak akan mampu memuaskan harapan semua karyawan. Kompetisi yang disusun secara benar sedikit banyak membantu mengobati kekecewaan.
Pengalaman beberapa teman yang bosan karena telah begitu lama menempati jabatan di suatu unit kerja dapat dijadikan pelajaran. Berjauhan dengan keluarga demi obsesi pangkat dan penghasilan yang lebih tinggi tetap dilakoni. Tahun pertama bekerja dengan semangat yang luar biasa, lembur sampai malam hari tanpa bayaran pun tetap dilakukan. Tahun kedua dengan harapan mendapatkan peningkatan status, semangat juang masih menyala. Tahun ketiga semangat makin menurun, sudah tidak ada lagi pekerjaan yang dilakukan diluar jam kerja. Tahun keempat semakin kendor, … begitu terus dan tidak menutup kemungkinan semakin lama semangat itu semakin padam.
Ya, pada saat itu rasa bosan menghempas-hempaskan semangat kita. Namun sobat, percayalah, manajemen pada saatnya akan melihat situasi itu. Walaupun tidak sekarang, suatu saat sobat akan mendapatkan pengakuan yang sesungguhnya. Keringat dan pengorbanan yang dilakukan pada saatnya akan terbayar lunas. Untuk hal ini marilah kita banyak belajar, marilah kita banyak berguru kepada teman-teman, saudara-saudara kita yang telah mengalami fase itu. Pada saat kita telah menunaikan kewajiban kita, memang tidak ada salahnya menuntut hak. Namun tentu ada cara yang elegan untuk mendapatkan itu.
Sobat sekalian, diluar hal yang diatas, mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus selalu mengasah seluruh kemampuan dan terus men-charged semangat hidup kita tiap hari untuk tetap mampu bertahan. Terlepas dari segala kepercayaan yang sobat anut, teori Evolusi Darwin mengajarkan bahwa hanya yang kuat dan mampu beradaptasi yang menang. Pernah ada kejadian yang menimpa satu perusahaan besar yang tidak usah kita sebutkan disini. Berdasarkan penilaian dan dukungan ahli-ahli manajemen ternama, mereka melakukan golden shake hand kepada para pegawainya karena mengasumsikan kinerja pegawai yang ada kurang “oke”. Apa lacur, perusahaan dimaksud kemudian di tinggal pegawai-pegawai terbaiknya. Bukannya semakin “oke” malah kinerja perusahaan semakin menurun. Pegawai yang baik pergi dan menyisakan pegawai-pegawai lama yang kinerjanya memang loyo. Coba sekarang sobat perhatikan, kebijakan ini sekarang tidak lagi populer pada perusahaan-perusahaan besar. Mereka lebih cermat dan kalaupun ada penawaran, ini hanya diberikan kepada orang-orang tertentu dalam perusahaan yang memang kinerjanya sudah tidak bisa di andalkan.
Sobat tentunya merupakan orang-orang terbaik yang dimiliki oleh perusahaan. Dimanapun sobat berada, pada posisi apapun, kobarkan terus semangat juang untuk hasil yang lebih baik. Jangan menyerah, tetap semangat … Lihat sisi baliknya dari pengorbanan yang dilakukan. Bila hal terbaik telah kita lakukan, perusahaan akan semakin menghargai kita dan di sisi lain sobat tetap akan menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Pun bila situasi terburuk terjadi pada perusahaan tempat mengabdi, dengan cepat nama sobat menjadi incaran perusahaan lain.
Sobat sekalian, kita semua hanya bisa ber-iktiar mendapatkan yang terbaik untuk diri kita, keluarga kita serta orang-orang lain yang kita kasihi. Untuk merekalah kita bekerja, untuk merekalah kita berkarya dengan segenap kemampuan. Untuk itu, jangan pernah dilupakan oleh kita sebagai orang yang beriman bahwa disamping kesabaran yang telah diajarkan dengan baik oleh Orangtua kita. Satu hal lagi yang tidak bisa kita lupakan, dalam situasi apapun : BERSYUKUR. Bersyukur atas segala nikmat yang telah kita peroleh dan bersyukur atas anugerah yang telah diberikan kepada kita. Setiap kali doa kita sampaikan, “Ya Allah, Yang Maha Pengasih …. terima kasih atas segala karunia yang telah Engkau berikan …”. Percayalah sobat bilamana kita sabar dan selalu bersyukur, hidup kita akan senantiasa lapang dan terhindar dari segala cobaan dan Insya Allah, tidak ada lagi rasa bosan yang melanda.
Sobat yang budiman, catatan ini jauh dari keinginan kami untuk menggurui, apalagi mengesankan bahwa kami lebih hebat dari sobat sekalian. Tidak, bukan itu. Sobat sekalian tentu punya pengalaman yang berharga dan ditempa pengalaman yang jauh lebih hebat dibandingkan kami. Saling berbagi, saling mengingatkan, saling bertukar pengalaman dan kesediaan sobat berinteraksi dengan kami merupakan suatu hal yang tidak bernilai di hati kami.
Catatan ini hanya merupakan refleksi kami untuk lebih introspeksi diri. Ajang berbagi kepada sobat sekalian. Bagaimana kita saling mengingatkan antar keluarga, antar saudara dan antar teman. Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT semata, kita manusia sangat jauh dari sifat itu.
Semoga bermanfat.
Wassalam,
Jumat, 10 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar