CINTAKU JAUH DI PULAU
Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.
Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"
Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.
-----o0o-----
Puisi yang di tulis oleh almarhum Chairil Anwar satu tahun setelah kemerdekaan Republik Indonesia itu, malam ini memberikan arti tersendiri bagiku. Alangkah berlikunya hidup, alangkah beratnya kehidupan bilamana di jalani dengan bahtera yang rapuh. Alangkah beratnya menggapai cinta, sebelum cinta berpeluk ajal telah memanggil dulu. Alangkah sedihnya kehidupan sang sastrawan besar, terlepas dia menggambarkan sendiri kehidupannya sendiri ataupun kehidupan lain di sekitar dia.
Cita-cita hanya cita-cita. Keinginan hanya keinginan. Manusia boleh merencanakan, siapa yang tahu apa yang terjadi esok hari. Optimisme dalam kata-kata, “Perahu melancar, bulan memancar.” Padam seketika, dalam kata,”Perahu yang bersama ‘kan merapuh!”. Semuanya menjadi hilang, sirna dan Sang Jantung Hati pun akan sendiri, meratapi atau malah menikmati sisa cinta yang telah tersapu angin.
Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia iseng sendiri.
Alangkah dasyatnya, cinta yang dipisahkan oleh kematian. Tidak ada penyesalan, rasa cinta berkibar sampai titik darahnya yang penghabisan. Tidak peduli, rasa cinta itu akan selalu hadir. Walaupun setelah itu dia sendiri dalam kefanaan cinta, masa yang terlewati bersama jauh lebih berarti dibanding kematian itu sendiri. Cinta yang fana, cinta yang terpisahkan akan selalu hadir dalam lubuk hati sang pujangga pujaan hati.
Atau barangkali, cinta itu tidak pernah bertemu. Hanya hasrat dalam dada. Hanya keinginan yang tidak tercapai. Harapan semu akan kehadiran si Jantung Hati. Kita tidak tahu, yang kita tahu sampai dengan kematiannya, sang sastrawan tetap sendiri, bahkan namanya pun seolah akan terlupakan, hilang bersama angin kalau tidak ada karya-karyanya yang mempesona.
Cinta adalah sebuah pilihan hidup. Disisi lain cinta itu merupakan suratan. Manusia berlainan jenis, dipisahkan oleh banyak perbedaan. Perbedaan latar belakang, perbedaan ras, suku bangsa, sikap, kehidupan, perilaku dan banyak lagi perbedaan yang harus disatukan dalam suatu bingkai kehidupan yang di namakan KELUARGA.
Namun bersatu dalam suatu kehidupan yang dinamakan keluarga adalah suatu rahmat, berkah, dan bisa merubah karakter seorang laki-laki yang tadinya tidak berprinsip, keras kepala, bandel, dan banyak sifat jelek laki-laki lainnya menjadi pribadi yang lembut, disiplin, dan sabar dalam menghadapi sikap istri maupun anak-anak yang bandel. Hanya satu jenis makhluk yang merubah itu, makhluk yang dinamakan PEREMPUAN.
Ya, perempuan. Makhluk yang sering dikatakan lemah, doyan belanja, boros, menambah pusing kepala. Makhluk itulah yang dengan sikap dan sifatnya mampu merubah semua. Tidak salah bila banyak orang pintar menyatakan, bahwa jatuh bangunnya sebuah keluarga, maju mundurnya sebuah bangsa, bagus tidaknya akhlak sebuah bangsa ditentukan bukan oleh pemimpin keluarga, tapi siapa yang mempengaruhi pengambil keputusan itu !.
Dibalik keberhasilan seorang pemimpin, ada orang lain yang mendukungnya. Tanyakan itu kepada mereka yang sudah sukses!. Maka berbahagialah mereka yang sudah berkeluarga, berani mengambil risiko mengarungi hidup untuk berbagi dengan pasangannya. Dalam susah, senang, miskin, kaya tetap dalam kepercayaan dan saling bahu membahu meniti kerasnya hidup.
-----o0o-----
Sobat, kita tidak bicara cinta di sini. Bukan pula nafsu serakah manusia yang dibalut dengan suatu kata yang namanya “CINTA”, kadang dibumbui kata yang namanya KEADILAN. Kadang pula dibumbui suatu kata yang dinamakan MENGIKUTI SUNNAH. Atau dilain hal dengan pembenaran, BAHWA AGAMA pun tidak melarang umatnya untuk men-dua, men-tiga, bahkan meng-empat hati.
Biarlah itu menjadi bidang orang-orang yang memang mengerti dan memahami itu. Dalam hal ini kita hanyalah awam, liyan yang mengikuti apa kata pemimpin. Mana yang terbaik itulah yang kita ikuti. Setiap perilaku dan keputusan yang kita ambil akan menjadi baik berdasarkan NIAT AWAL melakukan tindakan itu. Bukan mencela, bukan pula menyalahkan saudara-saudara kita yang kita anggap salah. Namun seperti kata di tengah paragraph kita kembalikan ke niat awalnya. Apabila niat awalnya memang sudah baik, kenapa tidak, kita dukung ramai-ramai …..
Sobat, tulisan semalam saya tulis sebelum diposting hari ini, karena terinspirasi oleh besarnya cinta pemimpin kita BJ. Habibie kepada almarhumah istrinya tercinta, ibunda Hj. HASRI AINUN BESARI HABIBIE.
Alangkah besarnya cinta pemimpin kita ini kepada sang istri. Selama kurun waktu hampir dua bulan, beliau dengan setia menemani sang istri di rumah sakit. Tanpa pernah pulang satu kali pun ! Mari sobat, kita ambil hikmah pelajaran dari hal ini. Untuk orang yang gila kerja, gila baca, gila ilmu pengetahuan seperti BJ. Habibie, namun pada saat-saat terakhir kepergian Ibunda Ainun Habibie mendampingi hingga sang istri menutup mata.
Saya pernah membaca dalam suatu artikel tentang perilaku pria dan wanita dalam menghadapi pasangannya yang terbaring sakit keras dirumah sakit. Setelah dua bulan sang wanita akan dengan sabar menemui dan menanyakan kepada dokter kapan suaminya bisa sembuh, alternatif-alternatif pengobatan yang bisa dilakukan pihak keluarga, hal-hal yang harus ia lakukan dan lain-lain yang mendukung kesembuhan suaminya. Sebaliknya bila hal ini menimpa sang wanita, maka Sang Pria akan bertanya dengan nada keras kepada dokter “sampai kapan dia akan seperti ini …. “.
Tapi ini tidak berlaku kepada pemimpin kita ini. Beliau dengan sabar, penuh sayang, penuh cinta, penuh kasih menemani saat-saat terakhir sang istri. Cinta beliau tidak padam sampai saat-saat terakhir. Dalam liputan televisi digambarkan bagaimana dukanya beliau menghadapi cobaan yang dialami. Namun tetap dengan kesabaran dan kebesaran hatinya dapat menerima semua dengan lapang dada.
Selamat jalan IBUNDA HJ. HASRI AINUN BESARI HABIBIE. Semoga engkau mendapat tempat yang layak di sisi ALLAH SWT, mendapatkan ampunan atas segala dosa dan kesalahan, menerima dengan lipat ganda atas segala amal ibadah yang telah engkau lakukan. Semoga pula segenap keluarga besar Bapak Habibie dapat menerima peristiwa ini dengan sabar …. Amiin.
Contoh yang diberikan oleh Bapak Habibie semoga pula menjadi tauladan buat kami dan terutama saya sebagai penulis notes ini. Semoga kami dapat melakukan hal yang sama sama. Saling mencintai, saling menghargai, saling menghormati sampai tua dan tetap setia mendamping sampai maut memisahkan.
Sekali lagi selamat jalan Ibunda, walaupun engkau telah menghadap Sang Khalik, engkau akan selalu ada di hati kami. Doa akan selalu kami panjatkan semoga engkau tenang dan bahagia di alam sana …. Amin.
Buat sobat-sobat yang belum menemukan pasangan hidup, masih ragu-ragu untuk membina rumah tangga ini juga semoga menjadi inspirasi, alangkah bahagianya bila hidup dalam kebersamaan sebuah keluarga. Percayalah semua kebiasaan buruk akan ter-eliminir dengan sendirinya dan yang pasti hidup akan menjadi lebih teratur dan pastinya akan lebih bertanggung jawab.
Bila sobat masih belum memutuskan untuk MENIKAH. Coba renungkan salah satu puisi Chairil Anwar dibawah ini.
SENJA DI PELABUHAN KECIL
buat: Sri Ajati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
ditulis tahun : 1946
Semoga menginspirasi ……
Luwuk, 25 April 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar